Senin, 22 Agustus 2011

Apa Kabar Sastra Indonesia?

Website Harian Haluan Padang

Oleh Fadlillah Malin Sutan

Apa Kabar?

Sebuah sapaan yang ramah, bersahabat dan umum, “Apa kabar sastra Indonesia?” Pada sisi lain, seakan sudah lama tidak berjumpa, atau sesaat, satu waktu kita bertemu, tidak lagi dekat, tidak lagi akrab, sehingga kita ingin tahu kabar beritanya. Seandainya sastra Indonesia itu adalah orang maka tentu ia akan menjawab; “Baik-baik saja” atau dia menjawab, “Waduh, aku sedang sakit perut”.

Tetapi, sastra Indo­nesia itu bukan orang, dia adalah karya manusia. Dengan demikian hal ini,  tentu, keinginan untuk mengetahui situasi, realitas dan gejala perkembangan sastra Indonesia hari ini. Kalau kita mena­nyakan bagaimana masa depan­nya, jawabannya; “kita tidak tahu dengan pasti”, (sebagai muslim “wallahu a’lam”. Namun, masa depan hanya dapat diprediksi (diperkirakan secara pengetahuan) dengan fakta  yang ada pada hari ini, dan tentu akan beragam (pro­ba­biltas).

Kamis, 18 Agustus 2011

Seorang Santri Menyebut Rinai Kabut Singgalang dalam Blognya


Oleh Ikrima*)

Setelah mengikuti perkumpulan Komunitas GUNA Aia Ketek di Rumah Puisi Taufiq Ismail kemaren, bertemu sahabat menulisku dari berbagai tingkat pendidikan. Tsanawiyah dan Aliyah bukanlah bahan pertimbangan untuk komunitas ini. Kami semua sama. Sama-sama ingin berkreativitas melalui hal yang jarang dilakukan orang saat ini, menulis dan membaca. Ya, inilah bukti awal anak bangsa.

Aku merasa dua hal yang setidaknya kuperoleh, pertama, ini adalah ajang berkumpul bersama sahabat penaku yang lain, walaupun di sekolah kami dipisahkan oleh jarak dan ruangan lokal yang bermacam-macam. Kukira kali ini aku dekat dengan mereka. Yang memiliki tujuan sama denganku. Indah bukan. Suasana Rumah Puisi itu pun sangat eksotik, menarik perhatian orang yang mengunjunginya.

Keindahan Rinai Kabut Singgalang Disebut dalam Blog Dunia Juwita


Yach, sebelum kepergianku ke kota Jakarta, alhamdulillah aku diberikan kesempatan oleh Allah untuk menginjakkan kaki di Rumah Puisi Aie Angek. Rumah Puisi yang berlokasi antara dua gunung Merapi dan Singgalang ini memang sangat indah seperti novelnya Muhammad Subhan “Rinai Kabut Singgalang”.

Benar di sini setiap saat kita bisa menikmati pemandangan Rinai Kabut Singgalang. Udara dingin disertai rinai telah mengundang kabut datang menutupi Gunung Singgalang dan benar setelah merasakan sendiri kedahsyatannya aku juga jatuh cinta pada Rinai Kabut Singgalang. Barangkali setiap orang yang menginjakkan kaki di sana juga akan merasakan hal yang sama. Mungkin saja.

Aku semakin jatuh cinta dengan negeri Minangku. Aku jatuh cinta pada Gunung Singgalang seperti aku pernah jatuh cinta pada Gunung Merapi.

Novel Rinai Kabut Singgalang di Merangin Ekspres Jambi


Mahasiswa Jadi Termotivasi untuk Buat Novel

*) Melihat Sisi Lain Bedah Novel Sastra Di STKIP Bangko

Mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia STKIP Bangko mendapatkan ilmu dan pengalaman baru. Penulis dan juga kurator sastra, membedah Novel karya Muhammad Subhan, yang dilahirkan di Aceh, dengan judul Rinai Kabut Singgalang (RKS). Selain membedah buku penulis juga memberikan trik-trik bagaimana menulis novel, banyak mahasiswa yang antusias dalam Bedah Novel sastra tersebut, berikut liputanya.

***

Novel Rinai Kabut Singgalang (RKS) dengan tebal lebih dari tiga ratus halaman, terlihat tebal di tangan pembaca. Sebab dari novel sastra yang dibuat oleh penulis Muhammad Subhan, terlahir dari pemikiran dan juga peristiwa yang dibangun dari pengalaman diri penulisnya. Selain itu penulis juga merebut ide dengan cara menguping, mengintip, dan juga merasakan, sehingga melahirkan realitias sosial dan realitas sastra.

Rabu, 17 Agustus 2011

“Kabut” dalam Rinai Kabut Singgalang

Oleh Halim Mubary

Hidup adalah perjalanan panjang yang akhirnya berhenti di sebuah terminal kehidupan. Dalam sebuah perjalanan yang panjang, biasanya seseorang sering menemukan sebuah nasib yang terkadang tidak sejalan dengan cita-cita dan keinginan. Banyak benturan yang mengiringi setiap langkah yang didapatkan pada setiap tikungan. Seperti halnya yang dialami Fikri, tokoh utama dalam Novel Rinai Kabut Singgalang (RKS). Bahwa Fikri harus berangkat ke Padang begitu menerima kabar ayahnya meninggal dunia.

Lalu, dengan menumpangi bus, Fikri memulai babak demi babak baru dalam kehidupannya. Meninggalkan sebuah kawasan pesisir Utara Aceh, tempat di mana dia dibesarkan, bermimpi, dan ingin membangun keluarganya seindah mungkin. Namun, kenyataan yang dihadapi Fikri malah sangat kontras dengan keinginannya.